WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif : Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.
GARUT –25 Desember 2025, Selasa malam, 23 Desember 2025, menjadi saksi bisu runtuhnya privasi di Garut City Residence. Operasi Densus 88 malam itu mengungkap fakta mengerikan: seorang remaja diamankan bukan karena ia membawa senjata, melainkan karena apa yang ada di dalam riwayat pencarian (browser history) dan aplikasi pesannya.
Kasus ini menjadi “kotak pandora” bagi radikalisme digital di Indonesia, memicu reaksi keras dari KPAI mengenai betapa rapuhnya pertahanan keluarga di era kecerdasan buatan.
Penjara Tak Kasat Mata
Jika dulu radikalisme membutuhkan pertemuan rahasia di tempat terpencil, kasus di Garut City membuktikan bahwa sel teror bisa aktif di tengah pemukiman elit dengan koneksi internet berkecepatan tinggi.

Remaja yang diamankan tersebut diduga telah melewati proses self-radicalization (radikalisasi mandiri). Melalui algoritma media sosial yang “belajar” dari minat pengguna, sang anak terus disuapi konten-konten ekstremis yang dikemas secara estetik dan modern, hingga akhirnya ia masuk ke dalam ekosistem komunikasi terenkripsi.
KPAI: “Orang Tua Terkecoh oleh Kepatuhan Semu”
KPAI menyoroti fenomena di mana orang tua sering merasa aman ketika anak mereka “diam di rumah dan bermain gadget”. Padahal, di balik diamnya sang anak pada Selasa malam itu, terdapat aktivitas komunikasi dengan jaringan internasional.
”Kami melihat adanya pola di mana anak-anak di bawah umur dijadikan ‘operator digital’ atau penyebar propaganda. Mereka mahir teknologi, tapi secara psikologis belum matang untuk menyaring doktrin. Mereka bukan pelaku dalam arti tradisional, mereka adalah korban eksploitasi digital,” tulis pernyataan resmi KPAI.
Garut City sebagai “Blind Spot” Baru
Mengapa perumahan seperti Garut City? Pengamat intelijen menyebutkan bahwa kompleks perumahan dengan sistem One Gate System dan privasi tinggi justru menjadi blind spot bagi pengawasan sosial.
Privasi Total: Tetangga tidak saling mengenal, sehingga aktivitas mencurigakan di dalam rumah sulit terdeteksi.
Infrastruktur Digital: Koneksi internet yang stabil di perumahan mewah memudahkan komunikasi lintas negara tanpa terputus.
Melawan Teror di Balik Layar
Densus 88 tidak hanya menyita barang bukti fisik, tetapi juga melakukan kloning data pada perangkat yang digunakan sang anak. Fokus investigasi kini beralih: bukan lagi mencari siapa yang memberikan senjata, tapi siapa yang mengirimkan “tautan” (link) pertama yang menyesatkan remaja tersebut.
Peristiwa 23 Desember ini menjadi pengingat bahwa musuh masa kini tidak lagi mengetuk pintu depan, melainkan menyelinap melalui notifikasi di saku celana anak-anak kita.(C.S)
Artikel ini masuk dalam: Terorisme.






