WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif : Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.
Garut 16/12/2025.Ginanjar, Ketua Regional Direktur Kebudayaan Anak dan Remaja Jawa Barat, memaparkan bahwa banyak pesan pribadi (japri) yang ia terima dari luar kota terkait kericuhan dan kekacauan yang terjadi pada acara kemarin. Menurutnya, pihak panitia dan penyelenggara seharusnya lebih terkoordinasi dan memiliki persiapan yang matang, mengingat acara tersebut bukan kali pertama diselenggarakan. Kurangnya persiapan ini sangat merugikan, terutama bagi para orang tua peserta.
Ia juga menilai lokasi acara kurang layak. Sebagai tuan rumah di Garut, kondisi tempat yang panas, pengelolaan sampah yang kurang baik, serta fasilitas yang tidak nyaman membuatnya merasa malu. Menurutnya, acara sebesar ini seharusnya diselenggarakan di tempat yang lebih representatif dan nyaman, bahkan tidak menutup kemungkinan diadakan di hotel. Meski muncul rasa kapok, ia tetap berharap agar ke depan Garut bisa menjadi tuan rumah yang lebih baik.
Ginanjar menegaskan bahwa ajang ini merupakan kegiatan besar tingkat Jawa Barat, dengan tamu yang datang tidak hanya dari Garut tetapi juga dari berbagai daerah lain. Ia sendiri hadir tidak pada saat pembukaan, namun tetap memperhatikan jalannya acara secara keseluruhan. Harapannya, Mojang Jajaka Alit dapat benar-benar terorganisir dengan baik, mencontoh sistem Paguyuban Mojang Jajaka yang sudah lebih matang, mulai dari pembukaan hingga penutupan acara.

Ia juga menyoroti pentingnya kejelasan jenjang kegiatan ini, apakah akan berlanjut ke tingkat provinsi atau tidak. Mengingat Mojang Jajaka sejatinya merupakan program tingkat Jawa Barat, seharusnya di daerah seperti Garut sudah ada seleksi Mojang Jajaka Alit terlebih dahulu, sebagaimana yang sudah lama berjalan di daerah lain seperti Kuningan dan Ciamis. Ia berharap Garut ke depan bisa mengikuti jejak tersebut.
Sebagai penutup, Ginanjar menghimbau kepada panitia agar lebih serius dalam mempersiapkan acara sebesar ini. Event besar membutuhkan kinerja keras, jumlah panitia yang memadai, serta pembagian tugas yang jelas. Ia menilai jumlah panitia kemarin terlalu sedikit dibandingkan jumlah peserta yang banyak. Sebagai pelaku budaya dan Direktur Kebudayaan Jawa Barat, ia berharap acara tersebut dapat berlangsung dengan keren dan berkesan. Namun kenyataannya, hasilnya berada di luar ekspektasi, tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi para orang tua peserta.
Ia berharap, dengan adanya Mojang Jajaka Alit Jawa Barat, budaya Sunda dapat terus dilestarikan dan Jawa Barat semakin dikenal, bahkan hingga ke mancanegara.(Opx)
Artikel ini masuk dalam: Berita Daerah, Berita Sejarah dan Budaya.













