GIPS: Pengakuan Gagal Wabup Garut Adalah ‘Warning’ Keras untuk Gaya Kepemimpinan Bupati

×

GIPS: Pengakuan Gagal Wabup Garut Adalah ‘Warning’ Keras untuk Gaya Kepemimpinan Bupati

Sebarkan artikel ini

WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif :  Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.

 

GARUT, 24 Februari 2026.Pernyataan mengejutkan Wakil Bupati Garut, drg. Luthfianisa Putri Karlina, yang mengaku “gagal” di tahun pertama menjabat, memicu reaksi keras dari pemerhati kebijakan publik.

Ketua Garut Indeks Perubahan Strategi (GIPS), Ade Sudrajat, menilai kejujuran tersebut secara tersirat juga menyentuh aspek disharmoni gaya kepemimpinan di pucuk pimpinan Kabupaten Garut.
Ade Sudrajat mengapresiasi keberanian Wabup, namun ia juga membaca adanya pesan mendalam di balik pengakuan gagal tersebut yang kemungkinan besar bersinggungan dengan sang Bupati, Abdusy Syakur Amin.

Isyarat Masalah di Level Puncak Ade menilai, meski publik melihat sindiran tersebut tertuju pada birokrasi, tidak bisa dipungkiri ada aroma kekecewaan terhadap bagaimana arah kepemimpinan dijalankan selama setahun terakhir.

> “Masalah asumsi bahwa sindiran itu ditujukan kepada Bupati, itu urusan internal mereka. Memang hanya Bu Wakil yang tahu persis bagaimana rasa dan dinamika gaya kepemimpinan pasangannya. Namun, ketika seorang Wakil berani bicara ‘gagal’ di depan publik, itu adalah sinyal bahwa ada sumbatan komunikasi atau ketidakselarasan visi di level puncak yang sudah tidak terbendung lagi,” ujar Ade Sudrajat, Selasa (24/2).

ASN ‘Batu’ dan Pimpinan yang Diabaikan
Selain menyoroti relasi kepala daerah, GIPS mengkritik tajam mentalitas ASN Garut yang dianggap menjadi tembok penghalang bagi inovasi yang dibawa oleh Putri Karlina.

> “Sangat disayangkan, apa yang diharapkan Ibu Wakil ternyata tidak disambut baik. Mentalitas pejabat dan ASN kita masih ‘gitu-gitu saja’, bekerja lamban, dan seolah tidak memusingkan pimpinannya. Kami menduga ada pembangkangan halus terhadap aturan yang berlaku. Ibu Wakil sepertinya sudah di titik ‘pusing’ melihat aparatur yang ia pimpin justru tidak menunjukkan apresiasi pada semangat perubahan,” tegas Ade.

Sindiran untuk Penonton di Lokasi

Ade menambahkan bahwa momen pidato di depan para birokrat tersebut adalah pilihan tempat yang sangat disengaja untuk meluapkan kekesalan atas kinerja buruk sistem.

> “Kami menilai sindiran itu sangat kuat diarahkan kepada para birokrat yang berkumpul saat itu. Mereka seolah bekerja tanpa beban sementara pimpinannya merasa terbebani janji politik. Jika mesin birokrasinya sudah tidak mau mendengar Wakil Bupati, maka Garut sedang dalam masalah besar.”

Sinyal Bahaya di Tahun Kedua

GIPS memperingatkan bahwa jika pengakuan gagal ini tidak dijawab dengan perombakan total pola kerja oleh Bupati dan jajarannya, maka tahun kedua kepemimpinan mereka hanya akan menjadi pengulangan kegagalan.

> “Birokrasi jangan sampai menjadi beban. Jika pimpinan sudah merasa gagal karena sistemnya macet dan tidak responsif, ini adalah lampu merah bagi masa depan Garut,” pungkas Ade.

Analisis Singkat untuk Anda:
Draf ini menonjolkan poin bahwa “internal hanya mereka yang tahu,” namun secara cerdas mengarahkan bahwa pengakuan gagal tersebut adalah dampak dari sistem (Bupati & Birokrasi) yang tidak mampu mengimbangi langkah Wakil Bupati.(***)

Artikel ini masuk dalam: Informasi Seputar Garut.

WBN-Fingerprint: wartabelanegara.com-2026
Artikel ini diterbitkan pertama kali di wartabelanegara.com oleh Taufik Hidayat