WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif : Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.
GARUT.(16 maret 2026) Senja belum lama berlalu ketika langkah kepedulian itu tiba di sebuah rumah sederhana di Kampung Cilengsing RT 01 RW 11, Desa Pasawahan, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut. Rumah yang nyaris ambruk itu menjadi saksi perjuangan seorang ibu lansia dhuafa yang tetap tegar merawat anaknya yang menyandang disabilitas.
Pada Senin, 16 Maret 2026, Anggota DPRD Kabupaten Garut Yudha Puja Turnawan datang menengok langsung kondisi keluarga tersebut. Kunjungan itu bukan sekadar agenda, melainkan wujud empati terhadap kehidupan yang berjalan dalam keterbatasan.
Di rumah yang dindingnya mulai retak dan atapnya nyaris roboh itu, tinggal Emak Rohaeti, seorang lansia yang setiap hari harus berjuang merawat putrinya, Pipit, perempuan berusia sekitar 30 tahun yang menyandang disabilitas. Sementara sang suami, Abah Ajat, menggantungkan hidup sebagai buruh tani dengan penghasilan yang tidak menentu.
Begitu tiba, Yudha Puja Turnawan menyerahkan santunan berupa sembako dan bingkisan Lebaran. Bantuan sederhana itu menjadi simbol kepedulian di tengah keterbatasan yang dihadapi keluarga tersebut.
Yudha menuturkan, kunjungan itu berawal dari informasi yang ia terima pada pagi hari mengenai kondisi Emak Rohaeti yang memprihatinkan.
“Hari ini saya bersama Pemerintah Desa Pasawahan, Sekdes Ibu Lisna, Kadus Bapak Asep, serta Ketua PAC Tarogong Kaler Kang Edi datang menengok langsung kondisi Emak Eti Rohaeti. Beliau adalah lansia yang tinggal di rumah yang sangat tidak layak huni, sekaligus merawat anaknya yang menyandang disabilitas,” ujar Yudha.
Kondisi rumah yang ditempati Emak Rohaeti benar-benar memprihatinkan. Atap rumah tampak rapuh dan hampir ambruk, sementara dindingnya dipenuhi retakan. Bahkan salah satu kamar sudah tidak bisa lagi ditempati karena bocor parah setiap kali hujan turun. Air juga kerap merembes ke bagian tengah rumah, membuat hunian tersebut semakin tidak layak untuk ditinggali.
Bagi Yudha, keadaan ini bukan hanya soal kemiskinan, tetapi juga tentang kemanusiaan yang harus segera dijawab dengan tindakan nyata.
Ia pun berharap para pendamping sosial di wilayah tersebut segera melakukan langkah konkret. Yudha meminta pendamping sosial, seperti Ibu Seni dan Ibu Rahmi, untuk berkoordinasi dengan bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) Dinas Sosial Kabupaten Garut agar keluarga Emak Rohaeti dapat diusulkan memperoleh program Rumah Sejahtera Terpadu (RST) dari Kementerian Sosial.
“Ini harus segera ditindaklanjuti. Rumahnya sangat tidak layak huni. Atapnya hampir ambruk, dindingnya retak, dan saat hujan air masuk dari berbagai sisi. Kondisi seperti ini tidak boleh dibiarkan terlalu lama,” tegasnya.
Tak hanya itu, Yudha juga berencana berkomunikasi langsung dengan jajaran Sekretariat Daerah melalui program Pagundi Luhur agar dilakukan asesmen lapangan secara cepat.
Menurutnya, perbaikan rumah Emak Rohaeti memerlukan kolaborasi berbagai pihak. Ia pun berharap Pemerintah Kabupaten Garut dapat mengoptimalkan sinergi pendanaan, baik melalui Baznas maupun program Corporate Social Responsibility (CSR) dari berbagai perusahaan.
“Semoga Pemkab Garut bisa mengoptimalkan kolaborasi pendanaan dari Baznas maupun CSR untuk membantu perbaikan rumah Emak Rohaeti,” ujarnya.
Di tengah kondisi rumah yang rapuh, wajah Emak Eti menyiratkan ketegaran seorang ibu yang tidak pernah menyerah pada keadaan. Ia tetap bertahan, merawat anaknya dengan penuh kasih sayang, meski hidup dalam keterbatasan.
Kisah Emak Rohaeti adalah potret kecil dari banyak perjuangan yang tersembunyi di sudut-sudut kampung. Namun kehadiran kepedulian sekecil apa pun selalu membawa harapan bahwa kehidupan yang lebih layak masih mungkin diwujudkan.
Dan di rumah yang hampir roboh itu, harapan mulai diketuk oleh langkah kemanusiaan.(opx)







