Menu

Mode Gelap

Daerah

Bangga Gusdipat Panji: Garut Jangan Tukar Warisan Intan dengan Label Dagangan

verified

WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif :  Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.

  Portal Warta Bela Negara. GARUT,11 september 2025.JAWA BARAT – Julukan yang melekat pada Kabupaten Garut kembali menuai sorotan. Dari sebutan historis “Kota Intan” yang disematkan Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, pada tahun 1960-an, kini
  Portal Warta Bela Negara. GARUT,11 september 2025.JAWA BARAT – Julukan yang melekat pada Kabupaten Garut kembali menuai sorotan. Dari sebutan historis “Kota Intan” yang disematkan Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, pada tahun 1960-an, kini

 

Portal Warta Bela Negara. GARUT,11 september 2025.JAWA BARAT – Julukan yang melekat pada Kabupaten Garut kembali menuai sorotan. Dari sebutan historis “Kota Intan” yang disematkan Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, pada tahun 1960-an, kini Garut lebih sering digembar-gemborkan sebagai “Kota Dodol”, bahkan terpampang besar di Alun-alun Tarogong Kaler.

Bangga Gusdipat Panji, S.E., pemerhati hukum adat desa yang akrab disapa Gaga, menilai perubahan ini bukan sekadar soal selera branding, melainkan persoalan jati diri dan konsistensi dalam menjaga warisan sejarah.

> “Julukan Kota Intan lahir dari kekaguman Bung Karno pada keindahan alam Garut yang berkilauan laksana permata. Itu adalah simbol marwah dan martabat daerah. Tapi kini, apa yang dipamerkan justru Kota Dodol. Bukankah ini sebuah ironi yang patut kita renungkan?” ujarnya dengan nada kritis.

Menurut Gaga, dodol memang ikon kuliner khas Garut yang membanggakan dan memiliki nilai ekonomi. Namun, menempatkannya di atas simbol warisan sejarah sama artinya dengan menukar identitas luhur dengan label dagangan.

> “Dodol itu oleh-oleh khas yang memang layak dipromosikan. Tapi intan adalah simbol kejayaan, kekayaan alam, dan warisan budaya yang jauh lebih tinggi nilainya. Jangan sampai kita rela menukar kejayaan sejarah dengan sekadar identitas dagangan instan,” tegasnya.

Ia menambahkan, pemerintah daerah semestinya menata ulang strategi branding, agar “Kota Intan” tetap menjadi payung besar identitas Garut. Dodol, bersama produk kuliner lain, sebaiknya diposisikan sebagai turunan kekayaan budaya yang memperkuat daya tarik wisata, bukan menggantikannya.

> “Garut punya gunung, danau, panorama alam, dan sejarah yang luar biasa. Itu yang membuat Bung Karno jatuh hati. Itu yang harus terus kita rawat. Jangan sampai warisan sejarah dan simbol kejayaan kita hanya tinggal cerita,” pungkas Gaga.(opx)

Artikel ini masuk dalam: Daerah.

WBN-Fingerprint: wartabelanegara.com-2026
Artikel ini diterbitkan pertama kali di wartabelanegara.com oleh Redaksi Garut

Facebook Telegram Pinterest WhatsApp Copy Link
Koperasi Desa Merah Putih Bojong Baru

Koperasi Desa Merah Putih Bojong Baru Disiapkan, Sosialisasi Awal Digelar

31 Desember 2025 - 01:13

Pedagang Sayur Rp10 Ribu Bebas Pilih di Puspa Raya Jadi Daya Tarik Warga

Pedagang Sayur Rp10 Ribu Bebas Pilih di Puspa Raya Jadi Daya Tarik Warga

17 Desember 2025 - 17:47

Pemilihan Ketua Forum Komunikasi Graha Kartika–Puspa Raya 2026–2029

Pemilihan Ketua Forum Komunikasi Graha Kartika–Puspa Raya 2026–2029

30 November 2025 - 18:05

Ketua Umum Banteng Komando Dan Staf Pengurus Perkuat Solidaritas dengan Penyerahan KTA Di Setiap Kunjungan 13 Koramil Kodim 1408/MKS

20 November 2025 - 22:10

Paparan Kinerja Posyandu RW 12 dan Program Kesehatan Lansia

Paparan Kinerja Posyandu RW 12 dan Program Kesehatan Lansia

14 November 2025 - 22:21

  Portal Warta Bela Negara. GARUT,11 september 2025.JAWA BARAT – Julukan yang melekat pada Kabupaten Garut kembali menuai sorotan. Dari sebutan historis “Kota Intan” yang disematkan Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, pada tahun 1960-an, kini
  Portal Warta Bela Negara. GARUT,11 september 2025.JAWA BARAT – Julukan yang melekat pada Kabupaten Garut kembali menuai sorotan. Dari sebutan historis “Kota Intan” yang disematkan Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, pada tahun 1960-an, kini