WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif : Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.
GARUT — Siang itu, Rabu 25 Maret 2026, langkah kaki menyusuri gang sempit di Kampung Astana Hilir, RT 01 RW 08, Kelurahan Jayawaras, Kecamatan Tarogong Kidul. Di ujung jalan, berdiri sebuah rumah yang lebih pantas disebut “tempat bertahan” daripada hunian. Dindingnya rapuh, atapnya nyaris runtuh seakan menunggu waktu untuk benar-benar menyerah pada keadaan.
Di sanalah Ibu Nopi Megawati tinggal, seorang perempuan yang menjalani hidup sebagai ibu sekaligus tulang punggung keluarga. Empat tahun sudah ia ditinggalkan suaminya, tanpa kepastian hukum, tanpa perlindungan negara yang seharusnya hadir. Ia bertahan dengan pekerjaan sederhana sebagai buruh setrika, menghidupi anak-anaknya dalam keterbatasan yang tak pernah memilih waktu.
Kondisi itu mengetuk kepedulian Anggota DPRD Kabupaten Garut dari Fraksi PDI Perjuangan, Yudha Puja Turnawan. Bersama Kepala Kelurahan Jayawaras, Yoyo, ia datang langsung melihat realitas yang selama ini hanya terdengar sebagai laporan.
Namun apa yang ia temukan jauh lebih menyentuh daripada sekadar data.
Ibu Nopi tercatat dalam kategori desil 2—keluarga miskin. Ironisnya, ia justru belum tersentuh bantuan sosial utama seperti PKH maupun BPNT. Hanya sekali ia merasakan bantuan melalui BLT Kesra. Selebihnya, ia berjuang sendiri, memikul beban hidup tanpa jaring pengaman yang layak.
Melihat kondisi tersebut, Yudha tak datang dengan tangan kosong. Bantuan sembako dan santunan uang tunai dari dana pribadinya menjadi bentuk empati awal—bukan solusi akhir, tetapi setidaknya memberi napas bagi hari-hari yang berat.
“Ini bukan sekadar kunjungan. Ini panggilan nurani,” ungkapnya.
Lebih dari itu, ia bersama pemerintah kelurahan mulai merajut harapan. Proposal bantuan telah diajukan ke berbagai pihak Baznas, Disperkim, hingga lembaga perbankan seperti bank BJB dan BPR Garut—membuka peluang kolaborasi melalui dana CSR maupun sumber lainnya.
Namun, persoalan tak berhenti di kemiskinan.
Rumah yang ditempati Ibu Nopi masih tercatat atas nama almarhum kakeknya dalam SPPT. Sebuah detail administratif yang kerap dianggap sepele, namun dalam realitasnya menjadi penghalang besar untuk mendapatkan bantuan rutilahu dari pemerintah. Tanpa legalitas yang jelas, bantuan tak bisa turun—sebuah ironi di tengah kebutuhan yang mendesak.
“Kami akan ikhtiar. Ini bukan kasus tunggal, banyak masyarakat terjebak dalam kerumitan seperti ini,” tegas Yudha.
Di sisi lain, harapan juga diarahkan kepada Kementerian Sosial dan dinas terkait agar segera melakukan asesmen. Dengan status sebagai perempuan kepala keluarga dalam kondisi rawan ekonomi, Ibu Nopi dinilai layak mendapatkan program pemberdayaan, khususnya bantuan kewirausahaan.
Sebab bantuan bukan hanya soal memberi, tetapi tentang memampukan.
Perhatian juga tertuju pada masa depan anak-anaknya. Anak sulungnya kini duduk di bangku kelas 1 SMP Negeri. Namun, realitas kembali menampar—biaya sumbangan pendidikan dan seragam sekolah menjadi beban yang belum mampu dipenuhi.
Yudha menegaskan, pendidikan tidak boleh menjadi korban kemiskinan.
“Dana sumbangan pendidikan itu sifatnya sukarela, bukan kewajiban. Tidak boleh ada anak yang terhambat sekolah hanya karena orang tuanya tidak mampu. Itu hak dasar,” ujarnya tegas.
Ia pun berkomitmen untuk berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut agar anak Ibu Nopi dibebaskan dari beban tersebut dan tetap mendapatkan haknya, termasuk seragam sekolah.
Di tengah semua keterbatasan ini, Yudha juga menitipkan harapan kepada Bupati Garut Abdusy Syakur Amin dan Wakil Bupati Putri Karlina agar program bantuan Rp2 juta per kepala keluarga benar-benar menyentuh masyarakat yang paling membutuhkan—seperti Ibu Nopi.
Karena di balik angka-angka kebijakan, ada wajah-wajah yang menunggu keadilan.
Kisah Ibu Nopi adalah potret nyata bahwa kemiskinan bukan sekadar statistik. Ia hidup, bernapas, dan berjuang dalam diam. Dan terkadang, yang dibutuhkan bukan hanya kebijakan, tetapi keberanian untuk mengetuk pintu-pintu yang hampir dilupakan.
Di Astana Hilir, harapan itu belum padam.
Ia hanya menunggu siapa yang benar-benar peduli untuk menyalakannya kembali.(opx)







