WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif : Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.
GARUT.(03 April 2026).Di tengah derasnya hujan yang tanpa henti mengguyur wilayah Garut, suasana dingin dan basah menyelimuti setiap sudut kampung. Jalanan menjadi licin, genangan air mengalir di sela-sela rumah warga, dan sebagian masyarakat memilih bertahan di dalam rumah demi menghindari cuaca yang tak bersahabat. Namun, di balik hujan yang turun seolah tanpa jeda itu, tersimpan kisah kepedulian yang begitu menyentuh hati.
Yudha Puja Turnawan, anggota DPRD Kabupaten Garut dari Fraksi PDI Perjuangan, menunjukkan dedikasinya sebagai wakil rakyat. Setelah menerima kabar dari Abah Muda, seorang pemuda yang dikenal peduli terhadap kondisi sosial masyarakat, Yudha yang baru saja kembali dari Bandung usai menjalankan tugas kunjungan Kerja, tidak menunda waktu. Tanpa memikirkan kondisi cuaca yang buruk, ia langsung bergegas menuju Kampung Loji RT 01 RW 02, Desa Cimanganten, Kecamatan Tarogong Kaler.Kamis 02 April 2026.
Hujan deras yang mengguyur tak menyurutkan langkahnya. Sesampainya di lokasi, tubuh Yudha telah basah kuyup. Namun, kondisi tersebut seakan tidak berarti apa-apa ketika ia melihat langsung keadaan yang dihadapi oleh Pak Usep, seorang warga yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Rumah yang ditempati Pak Usep jauh dari kata layak. Bangunan sempit berbentuk bedeng itu terbuat dari bahan seadanya, seperti baligo bekas dan GRC, dengan atap asbes yang tampak rapuh. Lebih memilukan lagi, rumah tersebut berdiri di atas tanah milik saudaranya, bukan milik pribadi. Kondisi ini menggambarkan betapa sulitnya kehidupan yang harus dijalani setiap hari.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Pak Usep bekerja sebagai pencari rongsokan. Dari pekerjaan itu, ia hanya mampu memperoleh penghasilan sekitar 20 ribu rupiah per hari—jumlah yang sangat minim untuk mencukupi kebutuhan satu keluarga. Di dalam rumah sederhana tersebut, Pak Usep tinggal bersama Rusliana dan Ibu Memey, serta dua orang anak mereka.
Anak pertama, Sumiatu, berusia 16 tahun, harus merelakan masa pendidikannya terhenti. Ia hanya sempat mengenyam pendidikan hingga jenjang sekolah dasar sebelum akhirnya putus sekolah karena keterbatasan ekonomi. Sementara itu, anak kedua, Susilawati, yang masih berusia 5 tahun, berada di usia yang seharusnya penuh dengan keceriaan, namun harus tumbuh dalam kondisi serba kekurangan.
Melihat kondisi tersebut, Yudha tidak bisa menyembunyikan rasa prihatin dan keterkejutannya. Di tengah tubuh yang basah kuyup oleh hujan, ia menyampaikan harapannya agar pemerintah dapat memberikan perhatian lebih kepada masyarakat yang berada dalam kondisi kemiskinan ekstrem seperti yang dialami Pak Usep dan keluarganya.
Ia juga berkomitmen untuk mendorong berbagai pihak terkait, seperti Baznas, Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim), serta Dinas Sosial (Dinsos), agar dapat segera turun tangan memberikan bantuan yang dibutuhkan. Baginya Yudha Membetikan Sembako dan Uang Tunai untuk meringankan beban mereka, kehadiran negara harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang paling membutuhkan, bukan hanya sekadar wacana.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik derasnya hujan yang turun, masih banyak warga yang berjuang untuk bertahan hidup dalam keterbatasan. Namun, di sisi lain, masih ada pula sosok-sosok yang hadir dengan kepedulian nyata, menembus hujan demi memastikan bahwa tidak ada rakyat yang benar-benar dilupakan.(opx)







