Menu

Mode Gelap
Persib Bandung Resmi Umumkan Pemain Baru, Siapa Saja ? 13 Perusahaan Tambang Dapat Hak Istimewa di Raja Ampat oleh Pemerintah Longsor Tambang Batu Alam di Gunung Kuda Cirebon, 4 Tewas dan Puluhan Pekerja Tertimbun Garut Berduka: Ledakan Amunisi di Pantai Cibalong Tewaskan 11 Orang Arus Balik Lebaran 2025 Dimulai, Rekayasa Lalu Lintas Diberlakukan Breaking News:  Hari Raya Idul Fitri 1446 H Jatuh pada Tanggal 31 Maret 2025

Berita Utama

Kesehatan Mental dalam Keadaan Darurat Kemanusiaan

verified

Kesehatan Mental dalam Keadaan Darurat Kemanusiaan Perbesar

Kesehatan Mental dalam Keadaan Darurat Kemanusiaan

WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif :  Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.

Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 mengangkat tema “Kesehatan Mental dalam Keadaan Darurat Kemanusiaan” untuk wujudkan akses dan dukungan tanpa stigma
Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 mengangkat tema “Kesehatan Mental dalam Keadaan Darurat Kemanusiaan” untuk wujudkan akses dan dukungan tanpa stigma

Kesehatan Mental dalam Keadaan Darurat Kemanusiaan , Amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa Belum Terimplementasi dengan baik

Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025: Menyatukan Dunia untuk Pulih Bersama

WBN –Setiap tanggal 10 Oktober, dunia memperingati World Mental Health Day atau Hari Kesehatan Mental Sedunia. Momentum tahunan ini menjadi pengingat penting bahwa kesehatan jiwa sama esensialnya dengan kesehatan fisik, sekaligus upaya global untuk menghapus stigma terhadap gangguan mental yang masih melekat di banyak masyarakat.

Peringatan ini pertama kali digagas oleh World Federation for Mental Health (WFMH) pada tahun 1992 dengan dukungan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sejak itu, Hari Kesehatan Mental Sedunia dirayakan secara global sebagai wujud kepedulian terhadap kesejahteraan mental manusia di seluruh dunia.

Meningkatkan Kesadaran dan Menghapus Stigma

WHO menegaskan bahwa tujuan utama peringatan ini adalah mendorong percakapan terbuka tentang kesehatan mental dan memastikan akses terhadap layanan dukungan tanpa rasa takut atau diskriminasi.
Melalui kampanye global ini, masyarakat diingatkan bahwa kesehatan mental bukan tanda kelemahan, melainkan bagian penting dari kesejahteraan manusia secara menyeluruh.

“Tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental,” menjadi pesan utama WHO — menegaskan hubungan erat antara kondisi fisik dan mental yang harus dirawat secara seimbang.

Dalam berbagai laporan, WHO menyebutkan jutaan orang di dunia mengalami gangguan mental seperti depresi, kecemasan, atau stres pascatrauma, namun banyak yang belum memperoleh layanan yang memadai. Kondisi ini mendorong pentingnya kebijakan publik yang lebih inklusif dan responsif terhadap isu kesehatan jiwa.

Tema Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025: Kesehatan Mental dalam Keadaan Darurat Kemanusiaan

Tema peringatan tahun 2025 adalah “Kesehatan Mental dalam Keadaan Darurat Kemanusiaan”, yang menyoroti pentingnya dukungan psikologis di tengah krisis seperti konflik bersenjata, bencana alam, dan wabah penyakit.

WHO menyatakan bahwa dukungan psikososial harus menjadi bagian dari kesiapsiagaan, tanggapan, dan pemulihan kemanusiaan, sebab krisis tidak hanya menghancurkan infrastruktur, tetapi juga mengguncang kesehatan mental masyarakat terdampak.

Data WHO menunjukkan, satu dari lima orang di wilayah terdampak krisis mengalami gangguan mental, mulai dari kecemasan hingga gangguan stres pascatrauma (PTSD). Oleh sebab itu, layanan kesehatan mental harus menjadi bagian integral dari upaya kemanusiaan, agar masyarakat dapat pulih secara utuh — baik secara fisik maupun psikologis.

Ajakan WHO: Pulih Bersama untuk Dunia yang Lebih Sehat

Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia juga menjadi ajakan global untuk pulih bersama.
WHO menegaskan bahwa layanan kesehatan mental bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar yang menyelamatkan jiwa dan mempercepat proses pemulihan sosial setelah krisis.

Kesehatan mental bukan hanya urusan individu, tetapi juga tanggung jawab sosial dan kewajiban kolektif antara pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat.
Peringatan ini menjadi momentum agar semua pihak membangun solidaritas dan empati, memastikan akses layanan mental tersedia bagi semua kalangan tanpa diskriminasi.

Tanggung Jawab Negara dan Masyarakat Indonesia

Di Indonesia, perhatian terhadap kesehatan mental telah diatur melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, yang menegaskan bahwa pemerintah pusat dan daerah wajib menyelenggarakan upaya kesehatan jiwa, termasuk komunikasi, informasi, edukasi, serta jaminan akses layanan publik.

Negara juga bertanggung jawab melindungi kesehatan mental warganya dalam situasi darurat, seperti bencana alam, pandemi, maupun konflik sosial.
Menurut Pengamat Kesehatan, program perluasan akses terhadap layanan psikologis perlu terus diperkuat, sementara stigma sosial terhadap gangguan jiwa harus diberantas melalui edukasi berkelanjutan.

Keluarga dan komunitas juga memiliki peran besar dalam mendeteksi gangguan mental sejak dini, mendukung anggota yang membutuhkan pertolongan, dan menciptakan lingkungan emosional yang aman dan sehat.

Solidaritas Global dan Tindakan Nyata

WHO bersama berbagai organisasi dunia menegaskan prinsip penting bahwa “tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental.”
Oleh karena itu, dukungan psikososial dan layanan kesehatan jiwa harus menjadi prioritas utama dalam setiap upaya kemanusiaan, sama pentingnya dengan bantuan medis, pangan, dan logistik.

Menjadikan kesehatan mental sebagai inti dari kebijakan publik dan tanggap darurat berarti memperkuat ketahanan masyarakat serta mempercepat pemulihan sosial dan ekonomi pasca-krisis.
Setiap individu — dari anak-anak hingga lansia, termasuk penyandang disabilitas — memiliki hak yang sama untuk memperoleh layanan kesehatan mental yang layak dan bermartabat.

Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Sehat Secara Mental

Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 mengajak seluruh dunia untuk tidak lagi memandang sebelah mata kesehatan jiwa.
Dengan investasi serius, kolaborasi lintas sektor, dan dukungan publik yang berkelanjutan, kesehatan mental dapat menjadi pondasi utama bagi keluarga, komunitas, dan bangsa yang tangguh menghadapi tantangan global.

Peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan panggilan untuk bertindak nyata, menciptakan dunia yang lebih peduli, lebih sehat, dan lebih manusiawi — karena setiap orang berhak hidup dengan jiwa yang sehat dan bahagia.(FAAL)


Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025: Pulih Bersama di Tengah Krisis Kemanusiaan

ODGJ, Lansia, dan Difabel Berhak Terima Bansos Seumur Hidup

Bansos Harus Fokus Difabel, Lansia dan ODGJ

Kasus Bully Di Sekolah Yang Menyebakan Depresi Berat

WBN-Fingerprint: wartabelanegara.com-2026
Artikel ini diterbitkan pertama kali di wartabelanegara.com oleh redaksi

Facebook Telegram Pinterest WhatsApp Copy Link

Komentar ditutup.

RSU UMC Cirebon Raih Juara Nasional Antrean Online Mobile JKN

RSU UMC Cirebon Raih Juara Nasional Antrean Online Mobile JKN

16 Januari 2026 - 19:05

BS Head PTPN IV Regional 4 Apresiasi Tim SDM Solid dan Berdaya Saing Tinggi

BS Head PTPN IV Regional 4 Apresiasi Tim SDM Solid dan Berdaya Saing Tinggi

13 Januari 2026 - 14:50

Lurah Barombong Pimpin Pemantauan Pengerukan Drainase dan Perbaikan Jalan di Jalan Bonto Biraeng kecamatan Tamalate kelurahan Barombong

12 Januari 2026 - 16:36

BPS Kota Makassar Mendapat Dukungan Penuh Walikota Makassar dalam Persiapan Sensus Ekonomi 2026

9 Januari 2026 - 00:59

Kasdim 1408/Makassar Hadiri Pelantikan Ketua RT/RW Se-Kota Makassar di Lapangan Karebosi

29 Desember 2025 - 19:48

Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 mengangkat tema “Kesehatan Mental dalam Keadaan Darurat Kemanusiaan” untuk wujudkan akses dan dukungan tanpa stigma
Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 mengangkat tema “Kesehatan Mental dalam Keadaan Darurat Kemanusiaan” untuk wujudkan akses dan dukungan tanpa stigma