Menu

Mode Gelap
Persib Bandung Resmi Umumkan Pemain Baru, Siapa Saja ? 13 Perusahaan Tambang Dapat Hak Istimewa di Raja Ampat oleh Pemerintah Longsor Tambang Batu Alam di Gunung Kuda Cirebon, 4 Tewas dan Puluhan Pekerja Tertimbun Garut Berduka: Ledakan Amunisi di Pantai Cibalong Tewaskan 11 Orang Arus Balik Lebaran 2025 Dimulai, Rekayasa Lalu Lintas Diberlakukan Breaking News:  Hari Raya Idul Fitri 1446 H Jatuh pada Tanggal 31 Maret 2025

Mapag Darma Lingga Buana: Menguatkan Pondasi dari Titik Nol Garut pada HJG ke-213

verified

Mapag Darma Lingga Buana: Menguatkan Pondasi dari Titik Nol Garut pada HJG ke-213 Perbesar

WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif :  Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.

 

Garut, Kamis 12 Februari 2026 – Peringatan Hari Jadi Garut (HJG) ke-213 berlangsung khidmat dan sarat nilai budaya. Rangkaian kegiatan tahun ini terasa lebih kental dengan nuansa historis dan kearifan lokal, menegaskan kembali akar budaya sebagai fondasi perjalanan Kabupaten Garut.

Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Garut, H. Irwan Hendrasyah, SE, yang akrab disapa Kang Jiwan, menyampaikan bahwa HJG ke-213 menjadi momentum penting untuk melakukan flashback sejarah asal-usul Garut. Menurutnya, pelurusan literasi mengenai asal kata “Garut” dari kata “ka karut” perlu terus disampaikan secara jelas dan dapat dipertanggungjawabkan

Upacara Adat Mapag Hurip Gumiwang Ci Garut

Rangkaian diawali dengan upacara adat Mapag Hurip Gumiwang Ci Garut, yang menandai ditemukannya sumber mata air dalam proses perpindahan Ibu Kota Limbangan ke wilayah yang kini dikenal sebagai Kota Garut, tepatnya di lokasi SMPN 1 Garut. Prosesi ini menjadi simbol awal kehidupan dan tonggak sejarah lahirnya Garut.

Prosesi Mapag Darma Lingga Buana

Prosesi kedua adalah Mapag Darma Lingga Buana, yang diinisiasi oleh Dewan Kebudayaan Kabupaten Garut bersama para penggiat dan komunitas budaya. Prosesi ini sarat penghormatan kepada leluhur, mengingatkan bahwa di mana kita memulai dan berpijak, di sanalah akar ditanam dan hasil dituai.

Kang Jiwan menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan berkebudayaan pada HJG ke-213 ini. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dipertahankan dan dikembangkan, dengan dukungan penuh dari pemerintah melalui Disparbud dan para pemangku kepentingan.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan mempertahankan nilai-nilai budayanya, yang berawal dari tradisi dan sejarah,” pungkasnya.

Makna dan Rangkaian Prosesi Mapag Darma Lingga Buana

Menurut penggiat budaya Garut dari Dewan Kebudayaan Kabupaten Garut, Dassep Badru Salam bersama Daddo Bima Sena, prosesi ini menggambarkan perjalanan wakil rakyat dalam mengabdikan diri kepada masyarakat, dimulai dari titik yang sama, dengan visi dan misi bersama untuk mewujudkan kemakmuran yang penuh keberkahan.

Berikut tahapan dan maknanya:

1. Wewangian dalam Parukuyan

Prosesi diawali dengan seseorang yang membawa wewangian dalam parukuyan. Wewangian tersebut melambangkan harapan agar senantiasa menebarkan kebaikan yang terus hidup dan mengalir di tengah masyarakat.

2. Mojang Membawa Bokor Air (Tepung Cai)

Seorang mojang membawa bokor berisi air dalam prosesi tepung cai, menyatukan sumber mata air masyarakat adat dengan mata air Cigarut. Ini melambangkan sumber kahuripan (kehidupan) yang harus dijaga bersama dalam persatuan dan ketenteraman.

3. Salapan Indung Membawa Aisan

Sembilan indung membawa aisan yang melambangkan amanat dan harapan rakyat. Mereka didampingi unsur karesian (pemuka agama dan budayawan) sebagai penuntun nilai moral dan spiritual.

4. Tari Nawa Larang

Perjalanan dari sumber kehidupan menuju Titik Nol diawali dengan tari Nawa Larang, yang bermakna sembilan kemakmuran. Tarian ini dibawakan oleh empat penari dalam formasi masagi (persegi), menyimbolkan penyatuan visi antara:

KaRatuan (Bupati),

KaRamaan (wakil rakyat/jembatan aspirasi),

KaResian (penasihat, pemuka agama, budayawan),

Somah (masyarakat).

5. Pare Geugeusan dan Boboko

Salapan indung mengantarkan amanat rakyat melalui simbol pare geugeusan (padi yang telah diikat) yang disimpan dalam boboko. Bupati dan Wakil Bupati kemudian membagikan pare geugeusan kepada tiga unsur perwakilan (Rama, Resi, dan Somah) sebagai simbol kemakmuran dan kesejahteraan yang penuh keberkahan.

6. Penyiraman Air dan Nyieun Indit

Bupati dan Wakil Bupati menyiramkan air dari bokor ke tanaman di sekitar lokasi sebagai simbol menumbuhkan kehidupan. Prosesi ditutup dengan membuka kain putih yang melilit Tugu Titik Nol, disebut Nyieun Indit, sebagai tanda dimulainya perjalanan pengabdian demi mewujudkan Garut yang tata tengtrem kerta raharja — aman, tertib, dan sejahtera.

Mapag Darma Lingga Buana bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat bahwa pembangunan harus berakar pada nilai budaya, sejarah, dan kearifan lokal. Dari Titik Nol Garut, langkah pengabdian kembali diteguhkan untuk masa depan yang lebih berkah dan bermartabat.(opx)

Artikel ini masuk dalam: Informasi Seputar Garut.

WBN-Fingerprint: wartabelanegara.com-2026
Artikel ini diterbitkan pertama kali di wartabelanegara.com oleh Taufik Hidayat

Facebook Telegram Pinterest WhatsApp Copy Link
Asuransi Bangun Askrida Perkuat Proteksi Kendaraan Nasional

Asuransi Bangun Askrida Perkuat Proteksi Kendaraan Nasional

11 Februari 2026 - 22:12

Asuransi Bangun Askrida: Solusi Perlindungan Gempa Bumi untuk Aset

Asuransi Bangun Askrida: Solusi Perlindungan Gempa Bumi untuk Aset

11 Februari 2026 - 18:10

Koramil 1408-09/Tamalate Gelar Karya Bakti Penanaman Pohon Antisipasi Banjir di Musim Hujan

11 Februari 2026 - 12:21

Penyesuaian Kerja ASN Saat Nyepi-Idulfitri 2026

Penyesuaian Kerja ASN Saat Nyepi-Idulfitri 2026

11 Februari 2026 - 11:54

Sampah Legenda Wisata Dua Tahun Tak Ditangani, Warga Desak DLH Turun

9 Februari 2026 - 19:06