WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif : Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.
Garut, 24 September 2025 – Maraknya kasus keracunan akibat konsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah di beberapa daerah menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua maupun siswa. Kondisi ini dinilai dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap program MBG yang sejatinya bertujuan untuk mendukung gizi dan kesehatan peserta didik.
Baca berita lain disini: Polisi Temukan Anak Hilang di Asia Plaza Garut, Berhasil Dipertemukan Sang Ibu
Pemerhati kebijakan publik, Kang Oos Supyadin SE MM, menilai bahwa pihak terkait, dalam hal ini Badan Gizi Nasional (BGN), sudah merespons secara proaktif terkait kasus tersebut. Namun, menurutnya, dibutuhkan langkah-langkah strategis yang lebih efektif dan selektif agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Baca berita lain disini: Saat Nomor Telepon Relawan Diblokir Bupati
Dalam pernyataannya, Kang Oos menyampaikan beberapa solusi yang dinilai bisa memperkuat keberlangsungan program MBG:
Baca berita lain disini: Kapolres Garut Damping Kapolda Jabar Tijau Pos Terpadu GTC Limbangan Dalam OPS Ketupat Lodaya 2026
1. Kantin sekolah sebagai mitra program MBG.
Menurutnya, kantin sekolah memiliki posisi strategis karena sehari-hari berinteraksi dengan siswa. Untuk itu, penunjukan kantin sekolah harus diatur dengan ketentuan ketat, profesional, serta transparan. Pengelolaan juga sebaiknya melibatkan komite sekolah dan Koperasi Desa Merah Putih.
2. Koperasi Desa Merah Putih sebagai penyedia kebutuhan MBG.
Koperasi ini dinilai mampu mendukung kebutuhan program MBG yang dikelola kantin sekolah. Oleh karena itu, kantin sekolah dianjurkan untuk menjadi anggota koperasi secara kelembagaan.
3. Pelibatan masyarakat sebagai pengawas program.
Masyarakat setempat diharapkan ikut berperan aktif dalam mengawasi pelaksanaan MBG di sekolah, sehingga program berjalan transparan dan akuntabel.
4. Mendorong ekonomi kerakyatan.
Kang Oos menegaskan bahwa program MBG harus menjadi motor penggerak ekonomi lokal dengan memanfaatkan sumber pangan dan gizi dari wilayah setempat, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan siswa, tetapi juga masyarakat sekitar.
“Semoga masukan ini bisa menjadi pertimbangan untuk perbaikan program MBG ke depan,” ujar Kang Oos menutup pernyataannya.
(Red)












