WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif : Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.
Garut, 19 Maret 2026 — Ketika akses vital tak kunjung tersentuh pembangunan, warga Kampung Wareng, Desa Tegal Gede, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, memilih bergerak sendiri. Tanpa menunggu bantuan, mereka patungan tenaga dan material membangun jembatan bambu penghubung ke Desa Tanjungjaya.
Di bawah komando Ketua pemuda asal kampung wareng RT 04 bapak Heru, kerja bakti dilakukan dengan semangat gotong royong yang solid. Jembatan yang dibangun bukan sekadar proyek sederhana, melainkan jawaban atas kebutuhan mendesak yang selama ini terabaikan.
“Ini murni dari masyarakat. Supaya akses lebih dekat, tidak perlu lagi muter jauh lewat Desa Depok,” ujar Heru.
Selama bertahun-tahun, warga harus menghadapi jalur memutar yang lebih panjang dan berisiko. Petani membawa hasil panen dengan susah payah, sementara anak-anak sekolah harus melewati medan yang tidak aman. Kondisi ini seharusnya menjadi prioritas, bukan justru dibiarkan hingga warga turun tangan sendiri.
Fakta di lapangan menunjukkan ironi: ketika masyarakat mampu bergerak cepat dengan keterbatasan, justru peran pihak yang memiliki kewenangan dan anggaran nyaris tak terlihat.
Jembatan bambu yang kini dibangun jelas bukan solusi jangka panjang. Dengan daya tahan terbatas, risiko keselamatan tetap mengintai, terutama saat hujan dan arus sungai meningkat. Namun bagi warga, ini lebih baik daripada terus menunggu tanpa kepastian.
“Kalau nunggu terus, entah sampai kapan. Padahal ini kebutuhan penting,” ungkap seorang warga.
Keberadaan jembatan ini sangat krusial. Selain memangkas jarak tempuh, akses tersebut menjadi urat nadi aktivitas ekonomi, pendidikan, dan keselamatan warga. Tanpa jembatan yang layak, mobilitas masyarakat akan terus terhambat.
Di satu sisi, kekompakan warga Kampung Wareng patut diapresiasi. Namun di sisi lain, kondisi ini menjadi tamparan keras bagi pihak terkait: mengapa fasilitas sepenting ini justru lahir dari swadaya masyarakat, bukan dari perencanaan pembangunan?
Masyarakat kini tidak hanya berharap jembatan ini segera rampung, tetapi juga mendesak adanya perhatian nyata agar dibangun secara permanen dan aman. Jangan sampai gotong royong warga dijadikan alasan untuk menunda tanggung jawab.
Jika kebutuhan dasar seperti akses penghubung saja harus diperjuangkan sendiri oleh warga, maka pertanyaan besarnya sederhana: sebenarnya pembangunan itu berpihak kepada siapa?
(Jajang ab)








