WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif : Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.
Banjir di DKI, Semarang, dan Jawa Barat akibat curah hujan tinggi merendam ratusan rumah, 27 RT di Jakarta Selatan, serta 23 kelurahan di Semarang dengan puluhan ribu warga terdampak.
JAKARTA, 30 Oktober 2025 — Hujan deras yang mengguyur sejak Rabu malam memicu banjir di sejumlah kota besar di Pulau Jawa. Sedikitnya 27 RT di Jakarta Selatan dan 23 kelurahan di Semarang terendam, sementara Pemerintah Jawa Barat menetapkan status siaga darurat bencana hingga April 2026.
Banjir Melanda Sejumlah Wilayah di Pulau Jawa
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan 27 RT di Jakarta Selatan tergenang banjir dengan ketinggian air bervariasi antara 30 hingga 110 sentimeter. Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD DKI Jakarta, Mohammad Yohan, menyebut genangan disebabkan oleh curah hujan tinggi dan luapan Kali Krukut serta Kali Mampang.
“BPBD mencatat saat ini genangan terjadi di 27 RT. Kami terus memantau dan mengerahkan personel untuk penyedotan serta memastikan tali-tali air berfungsi,” ujarnya, Kamis (30/10/2025).
Kondisi di Jakarta Selatan: Luapan Kali Krukut dan Mampang
Titik Terdampak
Berikut data titik banjir di Jakarta Selatan per pukul 17.00 WIB:
1. Kelurahan Cilandak Barat: 1 RT, ketinggian 80 cm, penyebab curah hujan tinggi dan luapan Kali Krukut.
2. Kelurahan Bangka: 1 RT, ketinggian 110 cm, penyebab curah hujan tinggi dan luapan Kali Mampang.
3. Kelurahan Petogogan: 25 RT, ketinggian 30 cm, penyebab curah hujan tinggi dan luapan Kali Krukut.

Tindakan BPBD DKI
BPBD DKI Jakarta mengoordinasikan unsur Dinas Sumber Daya Air (SDA), Dinas Bina Marga, dan Gulkarmat untuk melakukan penyedotan air di titik-titik genangan. Masyarakat juga diimbau untuk waspada dan segera menghubungi layanan darurat 112 yang aktif selama 24 jam nonstop.
Jawa Barat Tetapkan Status Siaga Darurat
Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi menetapkan status siaga darurat bencana untuk 27 kabupaten/kota, berlaku 15 September 2025 hingga 30 April 2026. Keputusan itu tercantum dalam Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 360/Kep.626-BPBD/2025.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan langkah tersebut diambil menyusul meningkatnya potensi banjir, longsor, dan cuaca ekstrem menjelang musim hujan.
“Semua kepala daerah diminta menyiapkan langkah mitigasi serta anggaran darurat bagi warga terdampak,” ujarnya.
Kota Bekasi Siaga Banjir
Sementara itu, Kota Bekasi juga menetapkan status siaga darurat bencana banjir, longsor, dan cuaca ekstrem sejak 3 Oktober 2025 hingga 30 April 2026, melalui Keputusan Wali Kota Bekasi Nomor 301.2.1/Kep.627-BPBD/X/2025.
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menuturkan, langkah tersebut diambil lebih awal sebagai antisipasi meningkatnya kapasitas air Kali Bekasi.
“Langkah ini agar masyarakat bisa bersiap menghadapi musim hujan dan potensi banjir di wilayah rawan genangan,” katanya.
BPBD Bekasi mencatat kawasan paling rawan adalah perumahan di sepanjang DAS Kali Bekasi, seperti Villa Jatirasa, Pondok Gede Permai, Kemang Pratama, dan Pondok Mitra Lestari.
Banjir Semarang Sudah Berlangsung 8 Hari
Ribuan Warga Terdampak
Banjir di Kota Semarang, Jawa Tengah, telah memasuki hari ke-8. Berdasarkan data BPBD Kota Semarang, hingga Rabu (29/10/2025), terdapat 63.400 jiwa atau 21.125 kepala keluarga terdampak genangan yang masih merendam 23 kelurahan di lima kecamatan, yaitu Semarang Utara, Gayamsari, Genuk, Pedurungan, dan Semarang Timur.
“Ada 63.400 jiwa yang terdampak banjir, sebagian besar sudah dievakuasi,” ujar Endro, perwakilan BPBD Semarang.
Selain menenggelamkan permukiman, banjir juga mengganggu pasokan air bersih dan LPG. Kendaraan di sejumlah ruas jalan utama mogok, termasuk di kawasan Jalan Kaligawe Pantura Semarang–Demak.
Korban Jiwa dan Upaya Penanganan
Hingga kini dilaporkan tiga orang meninggal dunia akibat banjir di Semarang. BPBD bersama pemerintah kota telah mengerahkan pompa penyedot dan tim evakuasi, sementara BMKG memantau potensi hujan lanjutan di wilayah pesisir utara Jawa Tengah.
Penyebab dan Dampak Luas
Fenomena banjir di tiga provinsi ini terjadi akibat kombinasi curah hujan ekstrem, drainase terbatas, dan luapan aliran sungai besar seperti Kali Krukut, Kali Mampang, dan Kali Bekasi.
Cuaca pancaroba juga memicu perubahan ekstrem dari panas terik menjadi hujan deras disertai angin kencang.
Selain merendam rumah dan fasilitas umum, banjir juga menyebabkan:
1. Gangguan transportasi dan aktivitas ekonomi.
2. Kerusakan jalan serta infrastruktur lingkungan.
3. Peningkatan risiko penyakit akibat genangan.
4. Gangguan suplai air bersih di beberapa titik.
Langkah Antisipatif Pemerintah
Pemerintah daerah di seluruh wilayah terdampak kini meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi banjir.
Langkah yang ditempuh meliputi:
1. Pengerahan pompa air dan peralatan penyedot genangan.
2. Pembersihan saluran drainase dan tali-tali air.
3. Distribusi bantuan logistik ke titik pengungsian.
4. Sosialisasi jalur evakuasi dan layanan darurat bagi warga.
5. Pemantauan muka air sungai secara berkala oleh BPBD.
Di tingkat nasional, Kementerian PUPR menyiapkan koordinasi teknis terkait normalisasi aliran sungai di daerah rawan banjir.
Tetap Siaga dan Waspada
Musim hujan yang mulai intens pada akhir Oktober 2025 menjadi peringatan dini bagi wilayah urban di Pulau Jawa.
Jakarta, Bekasi, dan Semarang menjadi contoh utama pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem, perbaikan drainase, dan mitigasi berbasis komunitas.
BPBD di tiap daerah mengimbau masyarakat tetap waspada, memperhatikan informasi cuaca dari BMKG, dan segera menghubungi 112 dalam keadaan darurat.(FAAL)
Banjir dan Longsor Terjadi di Badung Bali, Sejumlah Fasilitas Rusak
Bupati Bogor Teken MoU Penanganan Banjir dengan Gubernur Jabar di Cianjur
Artikel ini masuk dalam: Bencana Alam, Berita, Berita Utama, Banjir, BPBD, Cuaca Ekstrem, DKI Jakarta, Headline, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kali Krukut, Kali Mampang, Semarang, Siaga Darurat, Berita Bencana Alam Hari Ini, Berita Cuaca Hari Ini, Berita Terkini Terbaru, News-Berita.

















