WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif : Â Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.
Portal Warta Bela Negara. Garut, 27 Oktober 2025
Gerakan moral dan kebangsaan kini menggema dari Garut. Melalui lembaga Garut Indeks Perubahan Strategis (GIPS), Ketua GIPS Ade Sudrajat menyerukan kesadaran kolektif masyarakat Garut untuk bangkit melindungi tanah-tanah wakaf umat dari ancaman perampasan dan permainan tangan-tangan gelap para mafia tanah.
> “Kita sedang diuji — apakah Garut masih punya keberanian moral untuk menjaga amanah para pendahulu kita? Tanah wakaf bukan milik individu, tapi milik umat. Ia harus dijaga dengan hati, bukan hanya dengan berkas,” ujar Ade Sudrajat, dengan nada tegas dan menekan di setiap kalimatnya.
Yayasan Baitul Hikmah, Cermin Luka Umat
GIPS menyoroti kasus yang tengah dialami Yayasan Baitul Hikmah (YBHM) — sebuah lembaga pendidikan swasta yang berdiri di atas tanah wakaf dan kini menghadapi dugaan intervensi serta upaya penguasaan yang tidak semestinya.
Bagi GIPS, kasus YBHM bukan sekadar sengketa administratif, tapi luka moral umat yang sedang diuji integritasnya.
> “Ketika sekolah wakaf diganggu, maka yang disakiti bukan hanya pengurusnya, tapi juga ratusan anak yang belajar di dalamnya, ribuan doa yang lahir dari masyarakat kecil di sekitarnya. Inilah saatnya Garut membuka mata,” lanjut Ade.
Ia menegaskan, tanah wakaf adalah warisan spiritual — tempat ibadah, tempat pendidikan, tempat menanam nilai kehidupan. Jika tanah itu jatuh ke tangan yang salah, maka hilanglah sebagian cahaya masa depan Garut.
GIPS Menyerukan Gerakan Moral Kolektif
Dalam pernyataannya, Ade Sudrajat menyerukan kepada seluruh unsur masyarakat Garut untuk bergerak bersama tanpa menunggu perintah.
GIPS mengajak semua pihak: ulama, tokoh adat, guru, santri, mahasiswa, aparat desa, hingga masyarakat biasa untuk menjadi penjaga moral dan pengawas sosial di lingkungannya masing-masing.
> “Ulama jangan diam. Tokoh adat jangan diam. Anak muda jangan diam.
Karena ketika kita diam, yang menang adalah yang tega menjual amanah umat,” ujarnya.
Ia menegaskan, gerakan menjaga wakaf bukan gerakan politik, tapi gerakan nurani. Gerakan ini lahir dari keyakinan bahwa setiap jengkal tanah wakaf memiliki doa dan air mata orang-orang saleh yang mewakafkannya dulu dengan ikhlas.
Pemerintah Daerah Harus Hadir, Ade Sudrajat juga menyerukan agar Bupati Garut hadir sebagai pemimpin moral, bukan sekadar pejabat administratif.
> “Kami tidak menuntut banyak, hanya satu: keberanian berpihak pada kebenaran.
Jangan biarkan mafia tanah merasa nyaman di Garut. Bupati harus berdiri di depan rakyatnya, bukan bersembunyi di balik tanda tangan.”
Menurut GIPS, tugas pemerintah daerah hari ini bukan hanya mengurus pembangunan fisik, tetapi menjaga nilai-nilai spiritual dan sosial masyarakat Garut. Itu artinya, perlindungan terhadap tanah wakaf harus menjadi bagian dari panggilan moral pemerintah daerah.
Ulama dan Tokoh Adat: Penjaga Nilai, Bukan Penonton
Dalam seruannya, GIPS mengingatkan bahwa ulama dan tokoh adat adalah penjaga nilai luhur Garut.
> “Ketika ulama bersuara, rakyat akan sadar. Ketika tokoh adat berdiri, masyarakat akan bergerak. Saatnya dua kekuatan ini kembali bersatu, menjaga tanah umat yang mulai direbut oleh kepentingan duniawi,” kata Ade.
Ia menambahkan, tanah wakaf bukan benda mati — ia hidup bersama nilai-nilai yang ditanamkan oleh para pewakafnya.
> “Jangan biarkan doa para pendiri hilang hanya karena kita takut berbicara,” tegasnya.
Dari Doa ke Gerakan Nyata GIPS kini mendorong terbentuknya “Forum Masyarakat Penjaga Wakaf Garut” (FMPWG) — wadah independen lintas agama, adat, dan profesi yang bertugas mengawasi, mendampingi, dan menjaga aset wakaf dari ancaman penguasaan tidak sah.
Gerakan ini juga membuka ruang bagi masyarakat untuk:
Melaporkan indikasi permainan tanah wakaf ke lembaga masyarakat sipil dan media publik.
Mendorong transparansi publik atas status dan pengelolaan tanah wakaf di setiap desa.
Menguatkan literasi spiritual dan sosial bahwa menjaga wakaf adalah bagian dari ibadah sosial umat Islam.
> “Garut harus kembali punya daya moral. Karena perubahan besar tidak datang dari meja rapat, tapi dari hati masyarakat yang sadar akan tanggung jawabnya,” tambah Ade.
Seruan Akhir: Jaga Tanahmu, Jaga Marwahmu
Dalam penutupnya, Ketua GIPS menyampaikan pesan yang menjadi semangat seluruh gerakan moral ini:
> “Bangkitlah Garut.
Jangan biarkan tanah wakafmu direbut oleh nafsu dan kelicikan.
Jaga tanahmu, karena di sanalah berdiri doa anak-anakmu.
Jaga amanah umat, karena di sanalah berdiri marwah dan kehormatanmu.”
GIPS menegaskan, perjuangan menjaga tanah wakaf bukan hanya soal hari ini — tapi tentang masa depan Garut yang lebih bermartabat, tempat kejujuran, keberanian, dan iman kembali menjadi kekuatan utama perubahan.(opx)
Artikel ini masuk dalam: Daerah.
Berita Terbaru
- BS Head PTPN IV Regional 4 Apresiasi Tim SDM Solid dan Berdaya Saing Tinggi
- Camat Tamalate H. Emil Yudiyanto Tadjuddin Bersama Lurah Barombong Tinjau Langsung Pengerukan Drainase dan Penanganan Jalan Rusak di Jalan Bonto Biraeng
- Camat Tamalate H. Emil Yudiyanto Tadjuddin Bersama Lurah Barombong Tinjau Langsung Pengerukan Drainase dan Penanganan Jalan Rusak di Jalan Bonto Biraeng













